Thursday, 3 February 2011

Belajar Hidup dalam Kerendahan Hati


Mat 11:29 "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan."  Belum lama ini saya membaca sebuah buku tentang kerendahan hati karangan Adrew Murray, seorang hamba Tuhan besar di abad lalu. Winkie Pratney dalam kata sambutannya untuk buku itu mengatakan bahwa kerendahan hati masih merupakan salah satu kebutuhan terbesar dalam zaman kita. Begitu banyak buku yang membahas tentang kunci hidup sukses dan diberkati, tapi hanya sedikit yang menempatkan kerendahan hati sebagai syarat untuk mencapai kesuksesan sejati. Kerendahan hati seharusnya menjadi tujuan dan sasaran dalam hidup kekristenan kita sebab itulah kunci untuk menemukan kebahagiaan dan kedamaian sejati.
Dalam bahasa Yunani kerendahan hati dituliskan dengan kata 'praios' ( terjemahan b.Ingris : meek ) yang mana berarti juga lemah lembut. Kata praios juga dipakai dalam salah satu tema kotbah Yesus di bukit ( beatitudes ) yaitu berbahagialah orang yang lemah lembut ( praios) , karena mereka akan memiliki bumi. Para teolog yang ahli bahasa aram ( bahasa yang Yesus gunakan ) memperkirakan maksud Yesus dengan lemah lembut ( meek ) di sini adalah seseorang yang menyerah kepada Allah. Kerendahan hati memang erat kaitannya dengan peyerahan dan ketergantungan total kepada Allah. Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Rasul Paulus menuliskan tentang buah Roh yang salah satunya adalah kerendahan hati/kelemahlembutan ( praios, praiotes ). Jadi ternyata kerendahan hati juga merupakan salah satu bagian dari buah Roh. Salah satu tanda kedewasaan rohani adalah memiliki buah Roh termasuk salah satunya buah kerendahan hati/kelemahlembutan.
Yesus merupakan tedadan utama kita dalam mempelajari hidup dalam kerendahan hati. Selama hidupNya di dunia ini, Yesus selalu berjalan dalam kerendahan hati dan ketaatan kepada Bapa. Oleh karena itu pelayananNya membawa pengaruh yang begitu besar dan tidak dapat tertandingi oleh siapapun manusia yang pernah hidup di dunia. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa maka dunia ini sudah dikuasai oleh kesombongan dan keangkuhan hidup. Yesus datang dengan bersenjatakan kerendahan hati untuk mengalahkan dan menaklukkan kesombongan tersebut. Kesombongan hanya dapat dikalahkan oleh kerendahan hati.
Walaupun Yesus merupakan anak Raja dari segala Raja namun Ia memilih untuk lahir di kandang yang hina. Lalu Ia juga memilih untuk dilahirkan sebagai anak tukang kayu yang mana bukan pekerjaan terhormat. Selama 30 tahun, Ia juga bekerja sebagai tukang kayu walaupun sebenarnya Ia bisa saja melayani sejak remaja sebab kemampuan dan hikmatNya sudah memungkinkan untuk itu. Namun dengan sabar Yesus menunggu dalam kerendahan hati sampai waktunya (kairos) telah tiba bagi Dia untuk melayani sebagai anak Allah. Salah satu definisi dari kerendahan hati adalah kerelaan untuk mengalami hinaan dan tidak dikenal.
Pada masa-masa terakhir hidupNya di dunia ini, Yesus membasuh kaki murid-muridNya sebagai lambang kerelaanNya untuk melayani dan menjadi hamba bagi orang lain. Yesus mengatakan kepada para muridNya sebagaimana Aku membasuh kakimu maka kamu wajib saling membasuh kaki yang mana berarti harus saling melayani dan merendahkan diri. Selain berarti kerelaan untuk tidak dikenal, kerendahan hati juga berarti kerelaan untuk melayani dan menjadi hamba bagi orang lain. Kita wajib saling melayani satu dengan yang lain dalam kerelaan bila ingin hidup dalam kerendahan hati. Salah satu bentuk saling melayani tersebut adalah dengan saling mendoakan satu dengan yang lain.
"Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya" ( I Ptr 5:6 ). Syarat untuk mendapatkan promosi/peninggian dari Allah adalah hidup dalam kerendahan hati. Bila kita hidup dalam kerelaan untuk tidak dikenal dan melayani orang lain maka Tuhan akan meninggikan kita pada waktunya. Promosi yang sejati datang dari Tuhan bukan dari manusia. Bila Tuhan sendiri yang mempromosikan kita maka tidak ada satupun manusia yang dapat menghalangiNya. Selain itu hidup dalam kerendahan hati juga akan membuat hidup kita berhasil dan dipenuhi berkat. "Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah" ( Mzm 37:11). Walaupun bangsa kita sedang dirundung krisis yang sepertinya tiada berujung namun bila kita hidup dalam kerendahan hati maka kita akan mewarisi negeri ini dan menikmati kesejahteraan yang berlimpah-limpah. Jaminan kita bukan datang dari manusia tetapi datang dari Allah. Tuhan tidak akan pernah gagal menepati janjiNya sebab Ia tidak bisa gagal.
Bill Gothard mengatakan setiap pagi ia membiasakan diri merendahkan dirinya dalam doa kepada Tuhan. Setiap pagi ia mengakui kelemahan dan ketidaklayakannya kepada Tuhan. Bill berkata, "Bila Saya tidak merendahkan diri maka akan ada orang yang dengan senang hati akan merendahkan saya ". Daripada direndahkan lebih baik kita merendahkan diri di hadapan Tuhan. Segala sesutu yang kita lakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan kita. Kebiasaan-kebiasaan dalam hidup kita itulah yang disebut karakter kita. Bila kita membiasakan diri untuk hidup dalam kerendahan hati maka lambat laun kita akan memiliki karakter kerendahan hati. Kerendahan hati bukanlah sebuah karunia Roh melainkan karakter yang harus terus dilatih.
Beberapa waktu belakangan ini saya mulai membiasakan diri merendahkan diri setiap pagi dihadapan Tuhan. Setiap pagi saya mengakui kepada Tuhan semua kelemahan dan ketidakberdayaan saya. Saya mengakui dalam doa betapa saya ini lemah dan rentan terhadap dosa karena masih tersusun dari darah dan daging. Saya memohon kasih karunia dan kekuatan kepada Tuhan agar sepanjang hari bisa hidup dalam kekudusan dan kebenaran. Setelah melakukan kebiasaan itu, saya merasakan adanya sebuah kemenangan dan lebih mudah untuk hidup dalam kekudusan sepanjang hari. Bukan berarti setelah itu tidak ada lagi pencobaan dan godaan tetapi tersedia anugerahNya yang memberikan kekuatan untuk mengatasi setiap pencobaan yang datang. Kita semua sebenarnya layak binasa karena dosa namun oleh anugerahNya saja kita dibenarkan dan diselamatkan. Semuanya memang hanya karena anugerahNya bukan karena kuat kita. Marilah kita hidup dalam kerendahan hati seperti Tuhan kita, Yesus Kristus !

DATARAN DAMAI SEJAHTERA DAN BUKIT SUKACITA

Bacaan Alkitab: Filipi 4:4-9
Pendahuluan
“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! sekali lagi ku katakan: bersukacitalah!” (Filip 4:4). Sebagian dari kita tidak berada dalam terang ayat ini dan merasa sangat nyaman. Kerap kali kita tidak bersuka cita, tidak berseri-seri dan tidak tenang sebagaimana mestinyaanak-anak Allah yang sejati. Harus diakui bahwa kita hidup di dunia yang tidak yang tidak ideal dan diantara orang-orang yang tidak sempurna. Cuaca tidak selamanya cerah, keadaan tidak senantiasa menyenangkan, berbagai hal tidak selalu mendukung untuk menjadi ceria, orang tidak terus menerus baik, penuh perhatian dan suka membantu. Namun demikian kita diingatkan bahwa kita pasti sangat mengecewakan Tuhan kita yang berfirman “kamu adalah terang dunia” (Matius 5:14). Artinya kita harus bersinar.
Kita semua menjadi sasaran dari nasehat Paulus, Rasul yang memiliki sukacita. Ia mengatakan, dengan penekanan dan pengulangan pentingnya bersukacita di dalam Tuhan. “Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan!” –disini ada penekanan dan  “sekali lagi kukatakan: bersukacitalah!” –disini ada pengulangan. Paulus juga menyebutkan kemustahilan untuk bersukacita apabila terlepas dari Tuhan. “Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan!” ini bukanlah hasil dari usaha keras yang direncanakan secara cerdas atau di lakukan dengan sepenuh tenaga, tetapi semata-mata merupakan hasil persekutuan kita dengan Tuhan.
Rasul Paulus mengaitkan sukacita Tuhan dengan “damai sejahtera Allah” dan Allah sumber damai sejahtera, namun damai sejahtera muncul sebelum sukacita. Lalu bagaimana caranya untuk kita dapat menggapai dataran damaisejahtera dan bukit sukacita tersebut? Disini Paulus memberikan rumus yang dapat di pakai orang percaya untuk memperoleh “damai sejahtera Allah” yang pada akhirnya akan menuntun pada sukacita Tuhan. Rumusan tersebut terdiri dari 3 unsur:
1.      Roh Kebaikan
“Hendaklah kebaikan hatimu di ketahui semua orang” (ay 5). Arti dari istilah “kebaikan hati”: banyak penafsir menterjemahkannya seperti Kesabaran, Kelemahlembutan, dan Keluhuran budi. Frase tersebut sungguh-sungguh merupakan sebuah gabungan nilai. Ini mengungkapkan kekudusan yang disandingkan dengan kerendahan hati; kebencian terhadap dosa yang di padukan dengan kasih kepada pendosa, keyakinan yang disatukan dengan kesabaran, semangat yang di gabungkan dengan kebijaksanaan. Ia memungkinkan munculnya kemarahan tanpa keinginan untuk membalas dendam; amarah tanpa berdosa.
 Pendorong bagi kita untuk dapat memperlihatkan kebaikkan hati kepada semua orang adalah kehadiran Kristus yang menenangkan dan membuat orang rendah hati. “Tuhan ada dekat kita” TIdak akan sulit bagi kita untuk mempraktekan kebaikan di dalam perkataan saat kita memiliki kesadaran bahwa Tuhan ada di dekat kita. Dan tidak akan sulit bagi kita untuk menunjukkan kebaikkan dalam perasaan apabila kita menyadari kehadiran Tuhan kita. Juga tidak akan sulit bagi kita untuk mempraktekan kebaikan di dalam tingkah laku kita bahkan ketika muncul godaan, bila ingat bahwa Tuhan ada di dekat kita. Jadi bagaimana kita mengusahakan supaya kita memiliki Roh kebaikan, yaitu dengan menghadirkan Tuhan di dalam hidup kita dan menyadari bahwa Tuhan ada di dekat kita.

2.      Disiplin Doa
“Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam Doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (ay 6). Doa yang efektif tergantung pada dua syarat: yang Pertama, doa harus di lakukan dengan penuh kepercayaan. Ketika keadaan normal tidak ada masalah iman kita seperti pemazmur yang dalam kepercayaan yang utuh menyatakan “Tuhan adalah gembalaku……(Maz 23). Aku melayangkan mataku kegunung-gunung dari manakah akan datang pertolonganku….(Maz 121:1)”. Dan ketika keadaan menjadi sulit, symbol yang sesuai dengan iman yang bertekun adalah pohon di tengah musim salju yang menatikan datangnya musim semi. Meskipun daun-daunnya berguguran, setengah batangnya tertimbun salju, ranting-rantingnya di gayuti oleh es, dan tubuhnya di terpa oleh badai salju yang mengamuk tetapi ia terus mengangkat tangannya kepada Allah yang disorga yang telah berjanji, “selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, siang dan malam” (Kej 8:22). Serta ketika keadaan menjadi buruk, kita harus memiliki suatu teladan tentang kepercayaan yang sempurna di dalam Maz 27:1, “Tuhan adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? Tuhan adalah benteng hidupku terhadap siapakah aku harus gemetar?”
Yang kedua, doa harus di landasi sikap penuh syukur. Rasa syukur merupakan salah satu karunia yang dipakai orang percaya untuk menyatakan keadaan rohani yang baik. 1 Tes 5:18 : “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang di kehendaki Allah dalam Kristus Yesus bagi kamu”
3.      Praktek Hidup Yang Selektif
“Semua yang benar,… yang mulia,… yang adil,… yang suci,… yang manis,… yang sedap di dengar,… semua yang disebut kebajikan dan patut di puji, pikirkanlah semuanya itu” (ay 8). Hidup yang selektif mencerminkan kebijaksaan dalam tingkatan yang lebih tinggi. Dalam keadaan yang terburuk, betapapun mengenaskan dan menekannya, ada sesuatu yang baik. Di dalam diri orang-orang yang paling buruk, ada sesuatu yang layak dihargai. Di dalam situasi yang paling tidak ideal, terdapat sesuatu yang pantas dicari. Hidup yang selektif mencari hal-hal yang baik yang tersebunyi di dalam tumpukan, dan menolak apa yang tidak baik atau tidak bermanfaat.
Hidup yang selektif juga menunjukkan selera dan daya tarik terhadap kebaikkan. Seorang melihat dunia ini bukan bagaimana adanya, tetapi sebagaimana dirinya. Di dalam suatu gereja atau komunitas, seseorang mungkin melihat, menyerap, dan memancarkan apa yang indah, bernilai dan pantas dipuji. Orang lain secara khusus mungkin di anugerahi untuk merasakan skandal dan keburukan. Dengan menunjukkan apa yang kita lihat, kerap kali kita menunjukkan siapa diri kita sebenarnya.
Hidup yang selektif mengembangkan karakter yang mengimbangi makanan bergizi yang kita makan. Pertumbuhan rohani menuntut kedelapan vitamin yang terdapat dalam rumus rasuli –“semua yang benar,… yang mulia,… yang adil,… yang suci,… yang manis,… yang sedap di dengar,… semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu…”
Hidup yang selektif memiliki nilai-nilai untuk mengenyangkan jiwa dalam segala keadaan. Orang Kristen yang bijak dan yang sungguh-sungguh mencari kebaikan di dalam situasi yang di hadapinya kiranya akan memperoleh inspirasi di dalam proses selektif matahari ketika ia lewat diatas kepala untuk melakukan pekerjaannya. Dari manakah matahari mengumpulkan embun murni yang turun dalam bentuk hujan dan salju untuk memberkati bumi? Sebagian diserap dari danau dan sungai di pegunungan yang berkilauan. Tetapi tidak semuanya dari sana. Sebagian lagi di serap dari aliran sungai yang tercemar, dan sebagian lagi bahkan dari selokan-selokan paling kotor di daerah kumuh. Matahari itu selektif karena dari setiap lingkungan hal-hal yang bersih saja dan meninggalkan segala kotoran dan bau busuk di belakangnya.
“…Lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahter akan menyertai kamu” (ay 9). Inilah rumus surgawi: roh kebaikan, disiplin doa, dan praktik hidup yang selektif. Demikianlah, setelah mendapatkan persekutuan dengan “Allah sumber damai sejahtera” dan memperoleh “damai sejahtera Allah” di dalam hati kita, kita di persiapkan untuk mengalami sukcacita Tuhan.

KETIKA GEREJA BERDOA

“Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan Firman Allah dengan berani. Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama”. (KPR 4:31).
Kita harus sadari bahwa salah satu kekuatan besar gereja dari dahulu sampai sekarang adalah doa. Kekuatan gereja tidak ada pada manusia, juga pada hal-hal yang ada di dunia ini, tetapi kekuatan gereja ada pada Allah, dalam Yesus Kristus dan Roh Kudus. Karena itu gereja harus berdoa. Karena dengan berdoalah maka jawaban dari Allah kita dapatkan. “jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya” (Matius 6:8).
Dalam menghadapi  tantangan, aniaya, dan berbagai kesukaran karena nama Yesus. Gereja mula-mula menghadapinya dengan “DOA”. Senjata mereka yang paling ampuh namanya “DOA”. Doa mereka didasari pada keyakinan bahwa Allah yang mereka sembah memiliki segala kuasa, mampu mengatur segala sesuatu, mampu menyelesaikan setiap problema dan persoalan, sanggup menyembuhkan segala macam penyakit dan kelemahan, mampu mengatur segala sesuatu dan menolong mereka yang berseru memanggil namaNya.
Doa orang benar besar kuasanya, itulah yang nyata dalam kehidupan rohani dalam gereja mula-mula. Dan apa yang mereka imani di dalam doa terjadi. “dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus. Lalu mereka memberitakan Firman Allah dengan berani” (KPR 4: 31). Demikian juga hendaknya gereja di jaman sekarang, khususnya gereja di Indonesia seperti sekarang ini, yang tidak bedanya dengan gereja mula-mula menghadapi aniaya dan berbagai macam persoalan dan kesukaran. Doalah yang akan menghadirkan kuasa Allah dalam memulihakn gereja dan bangsa kita serta dunia ini. Salah satu cirri dari gereja Yesus Kristus yang hidup adalah “DOA”. Mengapa? Apakah yang terjadi jika gereja berdoa?
1.      Jika Gereja Berdoa Ada Jawaban Dari Allah
Dikala gereja mula-mula berdoa, jawaban dari Allah hadir dan kedua hamba Tuhan, Petrus dan Yohanes dilepaskan dari penjara. Mereka tidak mengadakan konfrensi dan membahas bagaimana caranya supaya para rasul itu di tengkap lagi dalam memberitakan Injil. Apa yang mereka laukan? Mereka berdoa!
Jika kita berdoa, Allah akan membuktikan bahwa Dia adalah Allah yang sama yang menolong para rasul dan hamba-hambanya yang berdoa dalam nama Tuhan Yesus, sebagaimana telah disaksikan Alkitab. Jika Ia mendengar doa umat-Nya dahulu, Ia juga mendengar doa umat-Nya sekarang, dan juga dimasa yang akan datang. Itulah sebabnya di dalam segala keadaan, dalam segala masalah dan persoalan, penyakit dan berbagai kesusahan, jangan takut, setiap persoalan ada jawaban yang pasti. Dan jawaban itu ada di dalam Tuhan Yesus Kristus, dan itu terjadi ketika umat-Nya datang berdoa.
2.      Jika Gereja Berdoa Pintu Pekabaran Injil Terbuka Lebar.
Kepada jemaat di Tesalonika, rasul Paulus mengatakan demikian: “kiranya Dia, Allah Bapa kita dan Yesus Kristus Tuhan kita membuka kami jalan kepadamu” ( 1 Tes 3:11).   Ungkapan yang member kepada kita gambaran bahwa jika Tuhan tidak membukakan kita jalan, maka pintu-pintu pelayanan  tertutup bagi kita. Karena itu sebagai umat Tuhan selagi ada kesempatan pada kita manfaatkanlah kesempatan tersebut dengan baik, yakni dengan “berdoa”. “Karena itu selagi ada kesempatan  bagi kita marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman” (Galatia 6:10). Betapa pentingnya sebagai gereja Tuhan untuk berdoa, dan seharusnya sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menopang hamba-hamba Tuhan di dalam pelayanan doa. Sehingga pintu-pintu yang selama ini tertutup akan terbuka.
3.       Jika Kita Berdoa Para Rasul Di Berikan Keberanian Untuk Memberitakan Injil
Memberitakan Injil menjadi keharusan dan kewajiban orang percaya khususnya ditengah kota dan bangsa kita, pemberitaan Injil sering terhambat oleh ancaman dari pihak-pihak tertentu. Dalam kondisi saat ini, pemberitaan Injil memerlukan keberanian. Disamping hambatan dan tantangan dari luar, salah satu hambatan dari dalam di dalam memberitakan Injil adalah “rasa malu” itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Sebab barang siapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah tengah angkatan yang tidak setia  dan berdosa ini, Anak manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, di iringi malaikat-malaikat kudus” (Markus 8:38). Keberanian untuk memberitakan Injil harus diminta kepada Tuhan. “Tetapi   sungguhpun kami sebelumnya, seperti kamu tahu, telah dianiaya dan dihina di FIlipi, namun dengan pertolongan Allah kita, kami beroleh keberanian untuk memberitakan Injil Allah kepada kamu dalam perjuangan yang berat” ( 1 Tesalonika 2:2).
            Saatnya bagi kita untuk ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan lebih dan lebih lagi, tanggung jawab sebagai gereja harus kita respon sekarang juga. Karena itu mulailah menjadi pribadi-pribadi yang senantiasa berdoa.

God Bless Us
Mari kita menjadi pendoa-pendoa bagi kota, bangsa dan suku bangsa kita.

Wednesday, 2 February 2011

DIRENCANAKAN BAGI KESENANGAN ALLAH


            “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan” (Wahyu 4:11); “Sebab TUHAN berkenan kepada umatnya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan” (Maz 149:4).
            Anda direncanakan medatangkan kegembiraan bagi Allah, hidup bagi kesenangan-Nya adalah tujuan pertama hidup kita. Apabila kita sungguh-sungguh memahami kebenaran ini sepenuhnya kita tidak akan pernah lagi memiliki masalah dengan perasaan tak berarti. Kebenaran ini membuktikan betapa berharanya kita dihadapan Allah. Kalau kita sedemikian penting bagi Allah dan Dia menganggap kita cukup berharga untuk ada bersama-sama-Nya dalam kekekalan, apalagi yang anda anggap lebih penting dari itu? Kita adalah anak Allah, dan mendatangkan kemuliaan bagi Allah lebih dari hal lain apapun yang pernah Dia ciptakan. Firman-Nya berkata, “dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya” (Efesus 1:5).
            Salah satu pemberian terbesar Allah kepada kita adalah kemampuan untuk menikmati kesenangan. Dia memperlengkapi kita dengan panca indera dan emosi sehingga kita dapat mengalaminya. Allah ingin agar kita menikmati kehidupan, bukan hanya menjalaninya. Alasan mengapa kita dapat menikmati kesenangan Allah adalah karena Dia menjadikan kita menurut gambar-Nya. Kita sering lupa bahwa Allah memiliki emosi juga. Dia merasakan berbagai hal dengan sangat mendalam, Alkitab memberitahu kita bahwa Allah menyesal, cemburu, marah serta merasa sayang, sedih, dan kasih serta juga suka cita, kegembiraan dan kepuasan. Allah mengasihi, bersuka, senang, bersorak, menikmati bahkan tertawa.
            Mendatangkan Kesenangan Bagi Allah Disebut “Penyembahan”
            Alkitab berkata, TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya. (Maz 147:11). Segala perbuatan kita yang mendatangkan kesenangan bagi Allah merupakan tindakan penyembahan. Seperti berlian, penyembahan memiliki banyak segi. Penyembahan sama alaminya seperti bernafas atau makan. Jika kita gagal menyembah Allah, maka selalu menemukan sebuah pengganti, meskipun akhirnya pengganti itu adalah diri kita sendiri. Alasan mengapa Allah menciptakan kita dengan keinginan ini adalah karena Dia mendambakan penyembah-penyembah! Yesus berkata, “tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam Roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barang siapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam Roh dan kebenaran” (Yoh 4:23-24).
            Penyembahan Jauh Lebih Dari Sekedar Musik. Bagi banyak orang penyembahan sama dengan music. Mereka berkata, di gereja kami, kami terlebih dahulu melakukan penyembahan, kemudian pengajaran. Setiap bagian dari ibadah gereja adalah tindakan penyembahan; berdoa, membaca Alkitab, menyanyi, mengaku dosa, diam, saat teduh, mendengarkan khotbah, memberi persembahan, babtisan, perjamuan kudus adalah penyembahan. Penyembahan bukanlah untuk kepentingan kita. Kerap kali kita mendengar orang berkata, saya suka penyembahan hari ini! Inilah pandangan yang kurang tepat mengenai penyembahan. Penyembahan bukanlah untuk kepentingan kita. Kita menyembah demi kepentingan Allah. Ketika kita menyembah tujuan kita adalah untuk mendatangkan kesenangan bagi Allah, bukan bagi diri kita sendiri.
            Jika anda pernah berkata, “saya tidak mendapatkan apapun dari penyembahan hari ini” anda menyembah untuk alas an yang keliru. Penyembahan bukanlah bagi kita, melainkan bagi Allah. Dalam Yesaya 29 Allah mengeluh tentang penyembahan yang setengah hati dan munafik. Bangsa itu mempersembahkan doa-doa panjang, pujian yang tidak tulus, kata-kata kosong, dan upacara-upacara buatan manusia tanpa berfikir tentang maknanya. Hati Allah tidak tersentuh oleh tradisi dalam penyembahan, tetapi oleh kasih dan komitmen. Firman Tuhan berkata, “dan Tuhan telah berfirman: oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang diohapalkan” (Yes 39:13).
            Penyembahan Adalah Kehidupan Kita. Penyembahan bukanlah bagian hidup, melainkan adalah kehidupan kita. Penyemabahan bukan hanya untuk kebaktian di gereja. Kita disuruh, “carilah Tuhan dan kekuatan-NYa, carilah wajah-Nya selalu!” (Maz 105:4). Dan “dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari terpujilah nama Tuhan” (Maz 113:3). Dalam Alkitab orang-orang menyembah Allah saat di tempat kerja, dirumah, dalam perjalanan, penjara, di dalam pertempuran dan bahkan di tempat tidur. Pujian seharusnya merupakan aktivitas pertama ketika kita membuka mata pada pagi hari, dan aktivitas terakhir ketika mau menutup mata pada malam hari. Daud berkata, “aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku”(Maz 34:1).
            Setiap aktivitas bias diubah menjadi tindakan penyembahan bila kita melakukannya demi pujian, kemuliaan, dan kesenangan bagi Allah. Alkitab berkata, “jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1Kor 10:31). Bagaimana mungkin melakukan segala sesuatu bagi kemuliaan Allah? Dengan melkukan segala sesuatu seolah-olah sedang melakukannya bagi Yesus dan dengan mengadakan percakapan yang terus menerus dengan-NYa sementara kita melakukannya. Firman-Nya berkata, “apapun juga yang kamu perbuat perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kol 3:23). 

Amin.
Semoga Bermanfaat
Tuhan Yesus Memberkati.  

DIBENTUK UNTUK MELAYANI ALLAH


"Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya" – (Efesus 2: 10). "Umat yang telah ku bentuk bagi-Ku akan memberitahukan kemasyuranku" – (Yesaya 43:21).
Allah membentuk setiap mahluk di dunia dengan bidang keahlian khusus. Setiap mahluk memiliki peran tertentu untuk di mainkan, berdasarkan pada cara mereka di bentuk oleh Allah. Hal yang sama berlaku pada manusia. Kita masing-masing dirancang secara unik, atau dibentuk untuk melakukan hal-hal tertentu. Sebelum arsitek merancang bangunan baru, mereka lebih dahulu bertanya, untuk apa bangunan ini didirikan? Akan digunakan untuk apa? Fungsi yang dimaksudkan selalu menentukan bentuk bangunan. Sebelum Allah menciptakan kita, Dia memutuskan peran apa yang Dia ingin anda mainkan di dunia ini. Allah merencanakan dengan persis bagaimana Dia ingin kita melayani Dia, dan selanjutnya Dia membentuk kita untuk tugas-tugas tersebut. Kita ada sebagaimana adanya kita karena kita dijadikan untuk suatu pelayanan khusus.
Alkitab menjelaskan, “karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup didalamnya” (Efesus 2:10). Kata “puisi” berasal dari kata Yunani yang diterjemahkan “buatan”. Kita merupakan karya seni buatan tangan Tuhan. Kita adalah sebuah karya Agung asli yang dirancang untuk satu tujuan, tidak ada duanya.
Allah dengan sengaja membentuk anda untuk melayani-Nya dengan cara tertentu yang membuat pelayanan anda unik. Daud memuji Allah atas perhatian pribadi yang luar biasa sampai pada bagian-bagian kecil ini: “sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib, ajaib apa yang Kau buat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya”. Seperti yang dikatakan oleh Ethel Water, “Allah tidak membuat sampah”
Allah tidak saja membentuk anda sebelum kelahiran anda. Dia merencanakan setiap hari kehidupan anda untuk mendukung proses pembentukan yang Ia buat. Daud melanjutkan, “dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan di bentuk, sebelum ada satupun dari padanya.”  Ini berarti bahwa tidak ada apapun yang terjadi dalam kehidupan anda yang tidak penting. Allah memakai semuanya itu untuk membentuk anda bagi pelayanan anda kepada sesame dan membentuk anda bagi pelayanan anda kepada-Nya.
Allah tidak pernah memboroskan sesuatu. Dia tidak akan memberikan anda kemampuan, minat, telenta, karunia, kepribadian, dan pengalaman-pengalaman kehidupan jika Dia tidak brmaksud untuk menggunakannya bagi kemuliaan-Nya. Dengan mengenali dan memahami faktor-faktor ini anda bias menemukan kehendak Allah bagi kehidupan anda. Alkitab mengatakan bahwa kejadian anda “dahsyat dan ajaib” anda merupakan kombinasi dari banyak faktor berbeda. Untuk menolong anda mengingat kelima factor ini, saya telah menciptakan sebuah akronim: SHAPE (bentuk).
BAGAIMAN ALLAH MEMBENTUK ANDA UNTUK PELAYANAN ANDA
            Kapanpun Allah member kita sebuah tuhgas, Dia selalu memperlengkapi kita dengan apa yang kita butuhkan untuk menyelesaikannya. Kombinasi kemampuan yang memiliki tujuan ini di sebut SHAPE (bentuk) anda:
Spiritual gifts (Karunia Rohani)
Heart (hati)
Abilities (Kemempuan)
Personality (Kerpibadian)
Experience (Pengalaman)
            SHAPE: MEMBUKA KARUNIA-KARUNIA ROHANI ANDA
            Allah memberi semua orang percaya karunia-karunia rohani untuk digunakan dalam pelayanan. Inilah kemampuan-kemampuan khusus yang diberikan Allah untuk melayani Dia kepada orang percaya. Alkitab mengatakan,  “orang yang tidak mempunyai Roh Allah, tidak dapat menerima apa yang dinyatakan oleh Roh itu”. Anda tidak bias memperoleh karunia-karunia rohani anda atau berhak menerima karunia-karunia itu sebagai upah kerja anda, karena itulah namanya karunia. Karunia rohani merupakan suatu ekspresi kasih karunia Allah bagi anda. Kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus. Anda juga tidak bias memilih karunia apa yang ingin anda miliki, Allah menentukannya. Paulus menjelaskan, tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya. Karena Allah menyukai keragaman dan Dia ingin kita menjadi khusus, maka tidak satupun karunia di berikan kepada semua orang. Juga tidak ada orang yang menerima semua karunia. Jika anda memiliki semuanya, anda tidak membutuhkan orang lain, dan inilah yang akan meruntuhkan salah satu tujuan Allah, yakni mengajar kita saling mengasihi dan saling bergantung.
            Karunia-karunia rohani anda tidak diberikan bagi kebaikan anda sendiri, tetapi untuk kebaikan orang lain, sama seperti orang lain di beri karunia bagi kebaikan anda. Alkitab berkata, "tetapi kepada tiap-tiap orang di karuniakan pernyataan Roh untuk kepentingan bersama. Allah merencanakannya seperti ini supaya kita saling membutuhkan. Ketika kita menggunakan karunia-karunia kita bersama-sama kita semua memperoleh manfaat. Jika orang lain tidak menggunakan karunia mereka, anda dirugikan dan jika anda tidak menggunakan karunia anda, mereka dirugikan. Karena itulah kita disuruh untuk menemukan dan mengambangkan karunia-karunia rohani kita. Apakah anda telah mengambil waktu untuk menemukan karunia-karunia rohani anda? sebuah karunia yang tak terungkap tidaklah ada artinya.
           Kapanpun kita melupakan kebenaran-kebenaran dasar tentang karunia ini, selalu muncul masalah dalam gereja. Dua masalah yang umum adalah "kecemburuan karunia dan proyeksi karunia". Masalah pertama terjadi ketika kita membandingkan karunia kita dengan karunia orang lain. Merasa tidak puas dengan apa yang Allah berikan pada kita, dan menjadi marah atau iri atas cara Allah menggunakan orang lain. Masalah yang kedua terjadi ketika kita berharap orang lain memiliki karunia-karunia yang kita miliki, melakukan apa yang kita panggil untuk di lakukan, dan merasa terbeban seperti halnya kita. Alkita mengatakan "dan rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan"
          Kadangkala karunia-karunia rohani terlalu ditekankan sehingga mengabaikan faktor-faktor lain yang Allah gunakan untuk membentuk anda bagi pelayanan. Karunia-karunia anda mengungkapkan satu kunci untuk menemukan kehendak Allah bagi pelayanan anda, tetapi karunia-karunia rohani anda bukanlah gambaran keseluruhan Allah juga telah membentuk anda dengan empat cara lainnya. 
GOD BLESS US..... semoga bermanfaat.
           

Tuesday, 1 February 2011

Meresponi Panggilan Allah Dengan Benar

Bacaan Alkitab: Keluaran 4 :1-17

Pendahuluan
Keluaran 4:1-17 bercerita tentang awal mula Allah memanggil Musa. Allah memiliki rencana yang luar biasa bagi Musa yaitu memilihnya untuk memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Namun terlibat atau tidaknya Musa dalam rencana besar itu di tentukan oleh reaksi Musa ketika panggilan itu datang. Keluaran pasal 4 ini memaparkan tentang suatu terobosan yang terjadi dalam hidup Musa yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Dalam Firman Tuhan ini, kita akan belajar untuk melihat segala sesuatu yang sudah Tuhan berikan dalam kehidupan kita. Ketika Tuhan memanggil kita, Dia tahu bahwa kita memiliki kapasitas yang dibutuhkan untuk melaksanakan rencana-Nya yang besar. Hanya saja, kita seringkali tidak dapat melihatnya. Ada beberapa hal penting yang bisa kita pelajari dari Keluaran pasal 4 ini, supaya ketika panggilan Tuhan itu datang, kita dapat merespon dengan benar sehingga kita dipakai dalam rencana Allah yang besar.

Jadi apa yang akan kita lakukan untuk kita dapat meresponi panggilan Allah dengan benar?, yaitu kita harus menyadari akan 3 hal ini, yaitu:

1. Menyadari Apa Yang Ada Pada Kita

Pelajaran pertama adalah kita sering tidak menyadari potensi apa yang ada di dalam diri kita. Tuhan memiliki rencana yang besar bagi kita, tetapi iblis tidak menginginkan rencana Allah ini terjadi dalam hidup kita. Karena itu iblis menipu kita dengan merusak gambar diri kita yang mennyebabkan  kita merasa tidak mampu. Kita di buatnya tidak bisa melihat potensi yang Tuhan sudah taruhkan di dalam kita. Hal ini terjadi pada Musa yang merasa tidak memiliki apapun yang membuatnya layak dipilih menjadi seorang pemimpin atas sebuah bangsa yang besar. Musa merasa  tidak bisa membuat Firaun maupun umat Allah percaya kepadanya. Lalu sahut musa: "bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: Tuhan tidak menampakan diri kepadamu!" (Kel 4:1). Dia  tidak yakin bangsa Israel mau mendengar dan percaya akan perkataannya, apalagi Firaun yang adalah pemimpin bangsa Mesir. Musa merasa bahwa bangsa Israel tidak mungkin mau dipimpinnya keluar dari perbudakan dan pergi ke tanah perjanjian .

Musa yang kemudian menjadi salah satu nabi terbesar yang pernah di catat di dalam Alkitabpun awalnya merasa tidak mampu menjawab panggilan Allah. Dia tidak menyadari ada kelebihan di dalam dirinyayang membuat Allah memilihnya. Namun sekalipun Musa merasa tidak mampu, Allah sanggup menjadikann hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Tidak hanya itu, Musa juga merasa tidak pandai bicara. Lalu kata Musa kepada Tuhan: "ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirmanpun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah" (Kel 4:10).

Pada jaman sekarang, bisa dikatakan Musa itu bicaranya gagap. Dengan kondisi seperti itu, Musa merasa tidak akan bisa meyakinkan bangsa Israel dan Firaun. Musa sungguh menyadari hal itu sehingga dia mengungkapkan kelemahannya itu kepada Allah. Namun karena Allah melihat melampaui apa yang dapat dilihat oleh Musa, dan Allah tahu potensi yang Tuhan taruhkan di dalam Musa. "Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang didepan mata, tetapi Tuhan melihat hati" (1 Sam 16:7).

Dari pengalaman Musa ini, kita bisa belajar bahwa jika Musa terus merasa bahwa tidak ada sesuatu yang istimewa di dalam dirinya yang bisa dipakai untuk membawa umat Allah keluar dari perbudakan Mesir, Musa tidak akan pernah mengalami hal-hal besar yang sudah direncanakan Allah bagi dirinya. Sejujurnya saya dapat simpulkan bahwa ketika panggilan Allah datang kepada Musa, sesungguhnya Musa dalam kondisi orang yang gagal. Mengapa saya simpulkan demikian, ya! jika kita membaca Keluaran pasal 2 disitu dijabarkan kodisi Musa yang dahulunya adalah seorang pangeran Mesir, statusnya berubah menjadi buronan raja Mesir karena dia membunuh seorang mandor Israel. dan dari segala kemewahan yang biasa dinikmatinya di istana Mesir, dia berubah menjadi hanya penggembala domba milik ayah mertuanya.

keadaan itu menurunkan kepercayaan dirinya. Dia merasa tidak ada lagi yang bisa dibanggakan  dari hidupnya. Dia merasa sudah gagal, sehingga dai berkata: "ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kau utus" (Kel 4:13). Jika Musa tidak menyadari bahwa Allah bisa menjadikan dia sebagai alat bagi rencana yang luar biasa, seumur hidupnya, Musa akan menjadi orang yang gagal. Namun sekalipun Musa merasa tidak mampu, Allah sendiri yang menguatkan hatinya. Musa bersedia patuh terhadap panggilan Allah. Dia mengijinkan Allah menuntun dirinya menjadi salah satu nabi terbesar dalam Alkitab.

Saat ini mungkin banyak diantara kita yang merasa tidak punya apapun yang bisa dipakai untuk mengatasi masalah, apalagi untuk melakukan hal-hal besar, tetapi sadarilah bahwa rencana Tuha di dalam hidup anda sangat dasyat. Kita adalah bangsa terpilih, umat kepunyaan Allah sendiri. Rencana Tuhan adalah memakai hidup kita untuk menyatakan akemuliaan-Nya keseluruh dunia. Dia ingin menjadikan kita kepala, bukan ekor. Sesudah kita menyadari hal ini, baru Allah bisa bekerja di dalam hidup kita.

2. Menyadari Bahwa Kita Memiliki Suatu Potensi Yang Dapat Di Kembangkan.

Musa merasa tidak pandai bicara, tetapi dia memiliki tongkat, tangan, mulut dan Harun kakaknya yang diutus Tuhan untuk membantunya. Tongkat itu pada awalnya hanya di pakai untuk menggembalakan domba, tetapi Allah memakainya untuk menyatakan mukjizat-Nya. Contohnya: Mukjizat pertama adalah tongkat berubah menjadi ular. Orang berilmua dan ahli sihir Mesir memang juga melakukan hal yang sama, tetapi tongkat mereka di telan tongkat Musa. Lalu air sungai Nil berubah menjadi darah ketika tongkat musa di masukan kedalamnya. Juga laut Merah terbelah menjadi dua ketika musa mengangkat tongkatnya.
Tongkat itu adalah tongkat yang sama dengan yang dipakai Musa untuk menggembalakan domba. Ditangan Tuhan, tongkat itu dipakai untuk memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Mulut Musa yang berat lidah juga di pakai oleh Allah. Urapan Allah menjadikan mulut Musa berkuasa, selain itu masih ada Harun yang dipakai Allah untuk menolong Musa.

Tuhan sudah menyediakan banyak hal dalam hidup kita untuk menyelesaikan masalah atau melakukan hal-hal berguna. Namun, kita sering tidak melihatnya. Adalah manusiawi jika kita tidak yakin terhadap potensi diri kita. Kuncinya adalah Iman. Ketika kita beriman kepada Allah, kita percaya kepada kuasa Allah sekalipun kita terbatas, Allah tidak terbatas, karena Allah adalah penjamin kita, tidak ada yang perlu kita takuti.

Potensi tidak hanya ada di dalam diri kita, tetapi juga bisa terus di kembangkan. Talenta yang kita miliki pada awalnya terasa tidak berarti. Itu wajar, karena saat itu talenta kita belum menghasilkan apa-apa. Namun Allah memberikan dalam diri kita talenta yang dapat berkembang. Jika kita terus menerus mengusahakannya dengan Iman, Ketaatan, dan Kesetiaan, talenta itu akan berkembang berlipat kali ganda.
Thomas Alfa Edison pernah berkata: "kalau kita melakukan semua yang dapat kita lakukan, kita akan benar-benar membuat diri kita tercengang. Penghambat kita untuk bisa berjalan dalam kemenangan adalah diri kita sendiri. Kita mencegah diri kita untuk melakukan apa yang dapat kita lakukan karena kita terlalu takut untuk mempercayai kemampuan kita sendiri."

3. Menyadari Bahwa Segala Yang Ada Pada Kita Mempunyai Tujuan Ilahi

Pada jaman kelahiran, Musa setiap bayi laki-laki yang dilahirkan oleh perempuan Ibrani terancam dibunuh atas titah Firaun. Namun,, bayi Musa berhasil lolos. Pada waktu itu di hanyutkan di sungai Nil, Musa ditemukan lalu diangkat anak oleh putri Firaun sehingga Musa bisa terus  hidup dan mendapat pendidikan kepemimpinan yang sangat baik. Kondisi ini bertujuan supaya Musa tahu bagaimana menjadi seorang pemimpin sehingga bisa memimpin umat Allah keluar dari perbudakan Mesir.

Lalu Allah membiarkan Musa menjadi seorang pelarian di padang gurun karena Allah ingin membentuk karakternya. Jika Musa tetap dibiarkan berada di posisinya sebagai pangeran, Musa tidak akan dapat memahami perasaan rakyat biasa. Oleh karena pernah menderita, Musa memiliki hati yang lembut terhadap bangsa Israel walaupun bangsa Isreal itu adalah bangsa yang tegar tengkuk dan keras kepala dan selalu menghina Musa namun Musa selalu bersyafaat bagi mereka. Jadi, jika tidak pernah mengalami penderitaan, Musa bisa saja menjadi pemimpin yang sewenang-wenang, seperti yang kita ketahui, dia membunuh orangMesir yang memukul orang Ibrani (Kel 2:12). Sekalipun cerdas, tetapi jika hati Musa tidak lembut, Allah tidak dapat memakai dia. Musa bahkan bisa menjadi berbahaya karena kecerdasan yang dia miliki. Jadi penderitaan membentuk karakter Musa menjadi baik.

Juga segala berkat dan anugerah yang Tuhan berikan dalam hidup kita memiliki tujuan ilahi, misalnya: Ester diangkat menjadi ratu karena Tuhan memiliki tujuan supaya Ester dapat memanfaatkan kedudukannya untuk menyelamatkan bangsanya (Ester 4: 2-14). Jadi kalau kita di beri kepandaian, kedudukan, kesempatan, atau kekayaan semuanya itu mempunyai tujuan ilahi. Sadarilah bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah dari Tuhan. Segala sesuatu yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita juga memiliki tujuan ilahi. Contohnya Yusuf dan Daud dibiarkan Tuhan mengalami proses yang sangat berat karena Tuhan ingin Yusuf dan Daud menjadi pemimpin-pemimpin yang baik. Jadi ada tujuan Allah dalam segala proses dan pembentukan yang terjadi dalam hidup kita, yaitu untuk mendatangkan kebaikan (Roma 8:28) dan segala rencana Allah indah pada waktunya.

Kesimpulan

Jadi untuk dapat meresponi panggilan Allah dengan benar, kita harus sadar akan tiga hal yaitu: sadar bahwa Tuhan menaruh potensi didalam setiap kita dan juga sadar bahwa potensi yang Tuhan taruh di dalam kita itu dapat berkembang serta sadar bawa segala sesuatu yang ada pada kita dan yang terjadi didalam hidup kita mempunyai tujuan ilahi.
Amin.

Khotbah Ibadah Raya
GEPKIM - Sei Lekop - Batu Aji
Jemaat Hosanah
By: Maria Manihuruk