Sunday, 6 February 2011

PENDIDKAN KRISTEN


Pendidikan Kristen adalah berbicara tentang aplikasi/proses yang terjadi dari lahir sampai mati atau boleh dikatakan gaya hidup orang Kristen. Pendidikan Kristen bertitik tolak dari Firman Tuhan Hosea 4:6, “Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu”.
Tiga tahapan dalam Pendidikan Kristen:
1. Bertumbuh Bersama Dalam Kristus.
Kolo se 2:6-7, “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur”. Firman Tuhan ini adalah titik berangkat untuk bertumbuh di dalam Kristus. Mari kita perhatikan Kolose 2:6a, mengatakan: “karena kamu telah menerima Kristus Yesus Tuhan kita” ini adalah titik berangkat untuk hidup di dalam Tuhan. Dan ayat 6b dikatakan, “hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia” ini adalah komitmen untuk hidup di dalam Yesus dan Kolose 2:7 mengatakan,”hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan di bangun di dalam Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman sebagaimana telah diajarkan kepadamu dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur” ini adalah cara supaya iman kita teguh dan juga adalah dengan adanya berbagai-bagai pencobaan seperti Yakobus 1:3 katakan, “sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan”.
Untuk bertumbuh dalam Kristus, yang pertama kita harus mempunyai komitmat atau tekad untuk meneliti Taurat Tuhan dan melakukannya serta mengajarkan Taurat Tuhan tersebut seperti yang dilakukan oleh Esra, “sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel (Ezr 7:10)”. Yang kedua adalah kita harus hidup untuk Tuhan seperti yang di katakana oleh rasul Paulus kepada orang-orang Galatia: “Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus (Gal 2:19)”. “Dan Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah (Kol 3:3)”. Yang ketigs adalah untuk kita dapat bertumbuh kita harus senantiasa tinggal di dalam Tuhan dan Firman-Nya di dalam kita, seperti yang di katakan Tuhan Yesus: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya (Yoh 5:7)”. Dan yang keempat adalah kita harus memiliki rasa takut akan Tuhan, “TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka (Maz 25:14).
2. Memberitakan Kebenaran dalam Kasih.
Pendidikan Kristen di mulai dari keluarga, gereja,dan sekolah. Di mulai dari keluarga maksudnya adalah adanya mezbah keluarga, dimana nama Allah di permuliakan dan Firman Allah di ajarkan, Yosua 24:14-16 berkata: “Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"  Lalu bangsa itu menjawab: "Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain!
Dan juga orang tua khususnya para bapak-bapak harus mengajarkan Firman Allah berulang-ulang, setiap saat kepada anak-anaknya. Seperti yang di katakan oleh Firman Tuhan: “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.  Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu (Ulangan 6:4-9)”.
3.      Menuju Kedewasaan Iman.
Iman Kristen berbicara mengenai Pemahaman Iman, Pengakuan Iman, dan Pengalaman iman. Dan untuk menuju kepada kedewasaan iman Gereja harus mempunyai 3 kematangan, yaitu yang pertama adalah Kematangan Intelektual atau yang di sebut cara berpikir yang mau di ajar/diubahkan, penulis Ezra pengatakan: “Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel (Ezra 7:10)”. Dan yang kedua adalah Kematangan Emosional yaitu mencakup buah Roh, “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,   kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu (Gal 5:22-23).” Serta yang ketiga adalah Kedewasaan Rohani. Pertanda atau ciri-ciri kedewasaan Rohani adalah bahwa setiap pribadi yang sudah dewasa rohani harus dapat menghasilkan buah khususnya buah roh seperti yang di katakana Rasul Paulus kepada jemaat gi Galatia (Gal 5:22-23). Dan juga setiap pribadi yang sudah dewasa harus memiliki perubahan gaya hidup, bertumbuh dalam pengetahuan akan Allah, seperti yang di katakan oleh Paulus di dalam tulisannya kepada jemaat Kolose: “sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah (Kol 1:10).
Dan juga seorang yang dewasa rohani itu adalah seorang yang memiliki kesabaran atau panjang sabar. Kolose 1:11, “dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar”. Dan yang terakhir cirri seorang yang dewasa rohani adalah seorang yang mempunyai gaya hidup yang penuh dengan ucapan syukur dan sukacita, hidup memuji Tuhan apapun situasi atau keadaan hidupnya.
Jadi kesimpulannya Pendidikan Kristen adalah pelayanan menyeluruh yang mencakup tubuh, jiwa dan roh.


Saturday, 5 February 2011

Penderitaan


          KITA semua tahu apa itu penderitaan. Kita bahkan mengalaminya. Orang biasa bilang bahwa penderitaan itu seperti bayangan yang selalu ada sepanjang badan. Kadang-kadang bayangan itu di belakang kita sehingga kita tidak menyadari keberadaannya. Tetapi sering juga bayangan itu membentang di depan. Penderitaan menjadi sangat jelas dan mencekam.
          Penyebab penderitaan juga macam-macam. Ia datang kepada kita dalam bentuk sakit, gagal dalam usaha, diperlakukan secara tidak adil, mengalami duka cita karena kematian orang yang kita kasihi, musibah seperti bencana alam. Singkatnya ada banyak penyebab penderitaan. Apa pun penyebabnya, penderitaan selalu ada. Ia seperti bayang-bayang yang selalu menyertai hidup. Hanya orang yang sudah meninggal saja yang tidak mengenal dan mengalami penderitaan. Atau mungkin juga orang mati menderita. Kita belum tahu itu, karena kita belum mengalami sendiri.
          Minggu-minggu ini umat kristen sedunia memasuki saat-saat perenungan akan penderitaan Kristus dan maknanya bagi mereka. Penderitaan selalu ada. Manusia tidak bisa berbuat lain kecuali menghadapinya. Itu sebabnya adalah penting untuk kita merenungkan makna penderitaan itu. Mungkin kita tidak suka melakukannya. Tetapi karena penderitaan itu merupakan fakta yang tidak terhindarkan, kita harus menerimanya dan menemukan maknanya. Inilah salah satu maksud penetapan perayaan minggu-minggu sengsara alam kalender gerejawi.
          Penderitaan perlu dihadapi dan direnungkan. Ini mengandaikan bahwa ada makna positif yang bisa kita petik dari pengalaman penderitaan. Ya, setidak-tidaknya itulah yang dikatakan oleh Henry Ward Becher. Menurut Becher "menangis itu adalah rahmat". Waktu anak kami lahir di negeri Belanda, seorang dokter datang membawa jarum suntik. Dia mengambil darah dari telapak kaki anak kami. Tentu saja si bayi kesakitan. Ia menangis dengan suara keras. Dokter yang merawat dia berkata: "Gooed..... Goed... doe maar" (Baik-baik. Menangislah). Sambil memandang kepada saya dia berkata: "Bayi yang menangis waktu disakiti adalah tanda bahwa bayi itu sehat. Menangis juga perlu agar paru-parunya berkembang".
          "Menangis adalah berkat." kata Henry Becher. Ini juga berlaku bagi orang dewasa. "Karena dengan air mata Allah membasuh mata kita agar melihat negeri yang tidak kelihatan, negeri yang tanpa air mata." Saya rasa pendapat ini ada benarnya. "Yesus ada bersama dua orang murid waktu mereka di dalam perjalanan ke Emaus. "Tetapi ada sesuatu yang menghalang mata mereka sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia" (Yoh. 24:16). Mereka sangat terpaku pada cara hidup yang lama, pendapat dan pengajaran yang lama tentang hidup, Allah dan kebenaran. Penghayatan mereka tentang hidup bersifat statis dan monoton.
          Sesuatu yang menutupi mata mereka itu terangkat, waktu Yesus berbicara kepada mereka begitu rupa sehingga hati mereka berkobar-kobar, mereka sangat tersentuh dan terharu dengan apa yang mereka dengar itu (Yoh. 24:32). Sangat biasa jadi perasaan berkobar-kobar itu membuat mata mereka basah karena air mata. Akibatnya mereka memperoleh pemahaman yang baru mengenai hidup, Allah dan kebenaran. Mereka memperoleh perspektif baru dalam memahami kitab suci. Mata mereka dapat melihat sesuatu yang baru pada apa yang selama ini sudah mereka lihat. Saya kira Becher benar saat ia berkata : "Menangis adalah berkat karena dengan air mata Allah membasuh mata kita agar melihat negeri yang tidak kelihatan, negeri yang tanpa air mata". Artinya dengan memahami penderitaan, pengharapan akan satu perubahan ke arah yang lebih baik makin dilihat sebagai sebuah kebutuhan. Pengharapan akan hidup yang lain dari keadaan sekarang (status quo) bertumbuh di dalam pengalaman penderitaan.
          Waktu pemerintah sekarang mengumumkan kenaikan harga BBM, reaksi muncul di mana-mana. Banyak orang yang meminta agar harta para koruptor besar disita oleh pemerintah untuk menanggulangi subsidi BBM, proses pengadilan yang adil kepada para koruptor harus menjadi prioritas pemerintah. Penderitaan ternyata mengajar orang untuk memperbaiki keadaan hidup.
          Penderitaan ada manfaatnya. Ia mendekatkan kita kepada Allah, kata seorang pemikir yang lain bernama Harlod A Bisley. "Penderitaan adalah kesempatan yang baik untuk berdoa. "Waktu hujan tidak turun dan tanaman di kebun mulai layu dan ada ancaman kegagalan panen, banyak orang berdoa. Kita cepat-cepat datang kepada Tuhan waktu pencobaan datang."
          Para awak kapal berseru masing-masing kepada Allahnya waktu badai dan angin sakal menghantam kapal mereka. Itu cerita yang kita baca dalam Kitab Yunus. Murid-murid Yesus juga berseru kepada sang guru waktu mereka diserang badai secara tiba-tiba saat mereka sedang berlayar. Bahkan Yesus sendiri juga mengambil waktu khusus untuk berdoa, waktu Dia berada pada situasi yang kritis menjelang kematiannya.
Akh, bisa saja ada yang tidak setuju. Penderitaan tidak membawa manfaat apa pun bagi manusia. Ia malah membuat umur hidup seseorang menjadi lebih pendek. Lihat saja, gara-gara penderitaan ada banyak orang yang stres, lalu mengalami strok dan kemudian stop. Karena alasan-alasan ini ada ahli yang menolak untuk kita memuliakan penderitaan. Penderitaan harus dilawan sekuat tenaga. Manusia harus berjuang untuk menolak penderitaan yang ia alami.
         Fakta-fakta yang kita catat di atas membuat kita menjadi bijak. Penderitaan itu ada plusnya tetapi juga ada minusnya. Ini memang fakta yang tidak mungkin dipungkiri. Teori macam apa pun tidak akan mampu berkat yang kita peroleh dalam penderitaan menghilangkan sisi negatifnya. Ini kalau kita bicara tentang plus-minus dari penderitaan. Daripada terjerat dalam soal plus minus dan kita tidak pernah akan memperoleh kata sepakat penderitaan dapat juga dilihat dari sisi lain. Sisi lain adalah sebagai berikut.
         Fakta mengatakan bahwa manusia tidak pernah sendirian dalam menghadapi penderitaan. Dalam derita manusia kembali menjadi satu. Penderitaan membuat perbedaan-perbedaan pendapat, konflik, dan perpecahan mencair dengan sendirinya. Orang-orang yang hidup dalam permusuhan dan konflik bisa dengan mudah melupakan konflik dan perbedaan pendapat yang ada di antara mereka. Coba kita lihat pengalaman penderitaan yang kita alami sebagai satu bangsa karena bencana alam di Aceh. Belakangan ini Indonesia dikenal sebagai bangsa yang bersekutu dan persaudaraannya tercabik-cabik. Bangsa Indonesia yang satu mengelompok dalam sentimen agama dan suku yang sangat tinggi. Orang Islam menganggap orang Kristen sebagai ancaman. Mereka saling memandang dengan penuh curiga, yang satu menganggap yang lain sebagai kafir atau melakukan syirik.
         Pengelompokan manusia Indonesia menurut agama : Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, orang kafir dan orang bertaqwa hilang dengan begitu saja. Mereka yang berbeda-beda ini justru bergandengan tangan menanggulangi dan menghadapi penderitaan. Ini sungguh satu mujizat. Ya, kalau dalam keadaan suka cita kita cenderung terbelah-belah, maka dalam derita dan duka kita kembali menjadi satu.
         Pengalaman tidak sendiri dalam penderitaan tidak merupakan satu yang bersifat horizontal belaka. Yang tidak kalah penting untuk kita ketahui, juga di dalam minggu-minggu pra paskah ini, adalah kenyataan berikut. Allah juga ada bersama kita. Ia menjadi satu dengan kita yang menderita. Allah ternyata ikut ambil bagian dalam penderitaan manusia. Ia yang kudus dan agung berkenan menyatukan nasibNya dengan nasib manusia.
Fakta ini kita alami di dalam Kristus. Paulus menulis: "Yesus Kristus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahan sampai mati di kayu salib" (Fil 2:5-9)
        Penderitaan memang menyakitkan dan menimbulkan luka. Tetapi manusia tidak pernah sendiri menghadapinya. Selalu saja ada teman dan sahabat yang ikut berbela rasa dengan kita memikul duka cita itu. Bahkan Tuhan juga menjadi sahabat kita. Yesus kawan yang sejati, bagi kita yang lemah, tiap hal boleh dibawa dalam doa padaNya. Inilah penghiburan sejati bagi manusia. Ini sumber kekuatan kita menghadapi penderitaan dengan percaya bahwa penderitaan itu bersifat sementara saja. Habis gelap akan terbit terang. Penderitaan ternyata membangkitkan pengharapan.

Thursday, 3 February 2011

10 Tips Bekerja sebagai Karyawan!


Kamu adalah garam dunia, Kamu adalah terang dunia. Matius 5 : 13-14 Prinsip diatas adalah prinsip kerja yang sifatnya WAJIB ! yaitu sebagai TELADAN ! Entah kalian bekerja sebagai karyawan, buruh, atau apapun juga, simaklah beberapa tips dalam bekerja yang diajarkan konsultan & penasehat pribadi saya, Roh Kudus;
1.      Cintai Tuhanmu
Jika ingin berhasil! jangan uang / penghasilan yang kau cintai ! Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Pengkotbah 5:10
2.     Taat kepada pimpinan kita.
Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus. Efesus 6:5
3.     Jangan munafik dan jangan jadi penjilat.
Jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah. Efesus 6:6
4.     Setia pada perkara kecil
( ingat, promosi itu datangnya dari Tuhan ) jika ingin naik pangkat ! Engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.. Matius 25;21
5.     Jangan punya mental tukang kas bon
yang suka berhutang!, ubah prinsip keuanganmu. Ingat satu hal, tidak ada bos yang suka terhadap karyawan yang selalu kas bon ! "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu." Lukas 3:14
Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga. Roma 13:8
6.     Bayarlah pajakmu!
entah itu pajak penghasilan, pajak bumi bangunan dll ( asal jangan memanipulasi pajak, supaya berkatmu tidak terhalang ) "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." Matius 22;21
7.     Gunakan fasilitas kantor sebaik mungkin
dengan penuh tanggung jawab ( contoh : menggunakan telepon tidak berlebihan ) Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?. Lukas 16:12
8.     Sukacita!
Buat apa kalau uang banyak, posisi tinggi tapi tidak bisa menikmati hidup dengan sukacita? Ingatlah hanya orang mati yang tidak bisa tersenyum ! Hati yang gembira adalah obat yang manjur. Amsal 17:22
9.     Bersyukur,
apapun yang terjadi! baik itu dipecat, difitnah atau hal yang tidak enak, sekalipun menimpa kita! Dan bersyukurlah.. Kolose 3:15 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan... Roma 8:28
10.  Setia pada perusahaan!
Jangan lakukan bisnis in bisnis yang merugikan perusahaan / melakukan pekerjaan yang membuat hatimu bercabang !
Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain.. Matius 6:24
Aktifitas kerjamu, mulailah dengan doa. Kuasa Roh Kudus akan memampukan engkau melakukannya, sehingga nama Tuhan akan ditinggikan
Sumber: Faith Hill Communication Indonesia

Belajar Hidup dalam Kerendahan Hati


Mat 11:29 "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan."  Belum lama ini saya membaca sebuah buku tentang kerendahan hati karangan Adrew Murray, seorang hamba Tuhan besar di abad lalu. Winkie Pratney dalam kata sambutannya untuk buku itu mengatakan bahwa kerendahan hati masih merupakan salah satu kebutuhan terbesar dalam zaman kita. Begitu banyak buku yang membahas tentang kunci hidup sukses dan diberkati, tapi hanya sedikit yang menempatkan kerendahan hati sebagai syarat untuk mencapai kesuksesan sejati. Kerendahan hati seharusnya menjadi tujuan dan sasaran dalam hidup kekristenan kita sebab itulah kunci untuk menemukan kebahagiaan dan kedamaian sejati.
Dalam bahasa Yunani kerendahan hati dituliskan dengan kata 'praios' ( terjemahan b.Ingris : meek ) yang mana berarti juga lemah lembut. Kata praios juga dipakai dalam salah satu tema kotbah Yesus di bukit ( beatitudes ) yaitu berbahagialah orang yang lemah lembut ( praios) , karena mereka akan memiliki bumi. Para teolog yang ahli bahasa aram ( bahasa yang Yesus gunakan ) memperkirakan maksud Yesus dengan lemah lembut ( meek ) di sini adalah seseorang yang menyerah kepada Allah. Kerendahan hati memang erat kaitannya dengan peyerahan dan ketergantungan total kepada Allah. Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Rasul Paulus menuliskan tentang buah Roh yang salah satunya adalah kerendahan hati/kelemahlembutan ( praios, praiotes ). Jadi ternyata kerendahan hati juga merupakan salah satu bagian dari buah Roh. Salah satu tanda kedewasaan rohani adalah memiliki buah Roh termasuk salah satunya buah kerendahan hati/kelemahlembutan.
Yesus merupakan tedadan utama kita dalam mempelajari hidup dalam kerendahan hati. Selama hidupNya di dunia ini, Yesus selalu berjalan dalam kerendahan hati dan ketaatan kepada Bapa. Oleh karena itu pelayananNya membawa pengaruh yang begitu besar dan tidak dapat tertandingi oleh siapapun manusia yang pernah hidup di dunia. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa maka dunia ini sudah dikuasai oleh kesombongan dan keangkuhan hidup. Yesus datang dengan bersenjatakan kerendahan hati untuk mengalahkan dan menaklukkan kesombongan tersebut. Kesombongan hanya dapat dikalahkan oleh kerendahan hati.
Walaupun Yesus merupakan anak Raja dari segala Raja namun Ia memilih untuk lahir di kandang yang hina. Lalu Ia juga memilih untuk dilahirkan sebagai anak tukang kayu yang mana bukan pekerjaan terhormat. Selama 30 tahun, Ia juga bekerja sebagai tukang kayu walaupun sebenarnya Ia bisa saja melayani sejak remaja sebab kemampuan dan hikmatNya sudah memungkinkan untuk itu. Namun dengan sabar Yesus menunggu dalam kerendahan hati sampai waktunya (kairos) telah tiba bagi Dia untuk melayani sebagai anak Allah. Salah satu definisi dari kerendahan hati adalah kerelaan untuk mengalami hinaan dan tidak dikenal.
Pada masa-masa terakhir hidupNya di dunia ini, Yesus membasuh kaki murid-muridNya sebagai lambang kerelaanNya untuk melayani dan menjadi hamba bagi orang lain. Yesus mengatakan kepada para muridNya sebagaimana Aku membasuh kakimu maka kamu wajib saling membasuh kaki yang mana berarti harus saling melayani dan merendahkan diri. Selain berarti kerelaan untuk tidak dikenal, kerendahan hati juga berarti kerelaan untuk melayani dan menjadi hamba bagi orang lain. Kita wajib saling melayani satu dengan yang lain dalam kerelaan bila ingin hidup dalam kerendahan hati. Salah satu bentuk saling melayani tersebut adalah dengan saling mendoakan satu dengan yang lain.
"Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya" ( I Ptr 5:6 ). Syarat untuk mendapatkan promosi/peninggian dari Allah adalah hidup dalam kerendahan hati. Bila kita hidup dalam kerelaan untuk tidak dikenal dan melayani orang lain maka Tuhan akan meninggikan kita pada waktunya. Promosi yang sejati datang dari Tuhan bukan dari manusia. Bila Tuhan sendiri yang mempromosikan kita maka tidak ada satupun manusia yang dapat menghalangiNya. Selain itu hidup dalam kerendahan hati juga akan membuat hidup kita berhasil dan dipenuhi berkat. "Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah" ( Mzm 37:11). Walaupun bangsa kita sedang dirundung krisis yang sepertinya tiada berujung namun bila kita hidup dalam kerendahan hati maka kita akan mewarisi negeri ini dan menikmati kesejahteraan yang berlimpah-limpah. Jaminan kita bukan datang dari manusia tetapi datang dari Allah. Tuhan tidak akan pernah gagal menepati janjiNya sebab Ia tidak bisa gagal.
Bill Gothard mengatakan setiap pagi ia membiasakan diri merendahkan dirinya dalam doa kepada Tuhan. Setiap pagi ia mengakui kelemahan dan ketidaklayakannya kepada Tuhan. Bill berkata, "Bila Saya tidak merendahkan diri maka akan ada orang yang dengan senang hati akan merendahkan saya ". Daripada direndahkan lebih baik kita merendahkan diri di hadapan Tuhan. Segala sesutu yang kita lakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan kita. Kebiasaan-kebiasaan dalam hidup kita itulah yang disebut karakter kita. Bila kita membiasakan diri untuk hidup dalam kerendahan hati maka lambat laun kita akan memiliki karakter kerendahan hati. Kerendahan hati bukanlah sebuah karunia Roh melainkan karakter yang harus terus dilatih.
Beberapa waktu belakangan ini saya mulai membiasakan diri merendahkan diri setiap pagi dihadapan Tuhan. Setiap pagi saya mengakui kepada Tuhan semua kelemahan dan ketidakberdayaan saya. Saya mengakui dalam doa betapa saya ini lemah dan rentan terhadap dosa karena masih tersusun dari darah dan daging. Saya memohon kasih karunia dan kekuatan kepada Tuhan agar sepanjang hari bisa hidup dalam kekudusan dan kebenaran. Setelah melakukan kebiasaan itu, saya merasakan adanya sebuah kemenangan dan lebih mudah untuk hidup dalam kekudusan sepanjang hari. Bukan berarti setelah itu tidak ada lagi pencobaan dan godaan tetapi tersedia anugerahNya yang memberikan kekuatan untuk mengatasi setiap pencobaan yang datang. Kita semua sebenarnya layak binasa karena dosa namun oleh anugerahNya saja kita dibenarkan dan diselamatkan. Semuanya memang hanya karena anugerahNya bukan karena kuat kita. Marilah kita hidup dalam kerendahan hati seperti Tuhan kita, Yesus Kristus !

DATARAN DAMAI SEJAHTERA DAN BUKIT SUKACITA

Bacaan Alkitab: Filipi 4:4-9
Pendahuluan
“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! sekali lagi ku katakan: bersukacitalah!” (Filip 4:4). Sebagian dari kita tidak berada dalam terang ayat ini dan merasa sangat nyaman. Kerap kali kita tidak bersuka cita, tidak berseri-seri dan tidak tenang sebagaimana mestinyaanak-anak Allah yang sejati. Harus diakui bahwa kita hidup di dunia yang tidak yang tidak ideal dan diantara orang-orang yang tidak sempurna. Cuaca tidak selamanya cerah, keadaan tidak senantiasa menyenangkan, berbagai hal tidak selalu mendukung untuk menjadi ceria, orang tidak terus menerus baik, penuh perhatian dan suka membantu. Namun demikian kita diingatkan bahwa kita pasti sangat mengecewakan Tuhan kita yang berfirman “kamu adalah terang dunia” (Matius 5:14). Artinya kita harus bersinar.
Kita semua menjadi sasaran dari nasehat Paulus, Rasul yang memiliki sukacita. Ia mengatakan, dengan penekanan dan pengulangan pentingnya bersukacita di dalam Tuhan. “Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan!” –disini ada penekanan dan  “sekali lagi kukatakan: bersukacitalah!” –disini ada pengulangan. Paulus juga menyebutkan kemustahilan untuk bersukacita apabila terlepas dari Tuhan. “Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan!” ini bukanlah hasil dari usaha keras yang direncanakan secara cerdas atau di lakukan dengan sepenuh tenaga, tetapi semata-mata merupakan hasil persekutuan kita dengan Tuhan.
Rasul Paulus mengaitkan sukacita Tuhan dengan “damai sejahtera Allah” dan Allah sumber damai sejahtera, namun damai sejahtera muncul sebelum sukacita. Lalu bagaimana caranya untuk kita dapat menggapai dataran damaisejahtera dan bukit sukacita tersebut? Disini Paulus memberikan rumus yang dapat di pakai orang percaya untuk memperoleh “damai sejahtera Allah” yang pada akhirnya akan menuntun pada sukacita Tuhan. Rumusan tersebut terdiri dari 3 unsur:
1.      Roh Kebaikan
“Hendaklah kebaikan hatimu di ketahui semua orang” (ay 5). Arti dari istilah “kebaikan hati”: banyak penafsir menterjemahkannya seperti Kesabaran, Kelemahlembutan, dan Keluhuran budi. Frase tersebut sungguh-sungguh merupakan sebuah gabungan nilai. Ini mengungkapkan kekudusan yang disandingkan dengan kerendahan hati; kebencian terhadap dosa yang di padukan dengan kasih kepada pendosa, keyakinan yang disatukan dengan kesabaran, semangat yang di gabungkan dengan kebijaksanaan. Ia memungkinkan munculnya kemarahan tanpa keinginan untuk membalas dendam; amarah tanpa berdosa.
 Pendorong bagi kita untuk dapat memperlihatkan kebaikkan hati kepada semua orang adalah kehadiran Kristus yang menenangkan dan membuat orang rendah hati. “Tuhan ada dekat kita” TIdak akan sulit bagi kita untuk mempraktekan kebaikan di dalam perkataan saat kita memiliki kesadaran bahwa Tuhan ada di dekat kita. Dan tidak akan sulit bagi kita untuk menunjukkan kebaikkan dalam perasaan apabila kita menyadari kehadiran Tuhan kita. Juga tidak akan sulit bagi kita untuk mempraktekan kebaikan di dalam tingkah laku kita bahkan ketika muncul godaan, bila ingat bahwa Tuhan ada di dekat kita. Jadi bagaimana kita mengusahakan supaya kita memiliki Roh kebaikan, yaitu dengan menghadirkan Tuhan di dalam hidup kita dan menyadari bahwa Tuhan ada di dekat kita.

2.      Disiplin Doa
“Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam Doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (ay 6). Doa yang efektif tergantung pada dua syarat: yang Pertama, doa harus di lakukan dengan penuh kepercayaan. Ketika keadaan normal tidak ada masalah iman kita seperti pemazmur yang dalam kepercayaan yang utuh menyatakan “Tuhan adalah gembalaku……(Maz 23). Aku melayangkan mataku kegunung-gunung dari manakah akan datang pertolonganku….(Maz 121:1)”. Dan ketika keadaan menjadi sulit, symbol yang sesuai dengan iman yang bertekun adalah pohon di tengah musim salju yang menatikan datangnya musim semi. Meskipun daun-daunnya berguguran, setengah batangnya tertimbun salju, ranting-rantingnya di gayuti oleh es, dan tubuhnya di terpa oleh badai salju yang mengamuk tetapi ia terus mengangkat tangannya kepada Allah yang disorga yang telah berjanji, “selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, siang dan malam” (Kej 8:22). Serta ketika keadaan menjadi buruk, kita harus memiliki suatu teladan tentang kepercayaan yang sempurna di dalam Maz 27:1, “Tuhan adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? Tuhan adalah benteng hidupku terhadap siapakah aku harus gemetar?”
Yang kedua, doa harus di landasi sikap penuh syukur. Rasa syukur merupakan salah satu karunia yang dipakai orang percaya untuk menyatakan keadaan rohani yang baik. 1 Tes 5:18 : “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang di kehendaki Allah dalam Kristus Yesus bagi kamu”
3.      Praktek Hidup Yang Selektif
“Semua yang benar,… yang mulia,… yang adil,… yang suci,… yang manis,… yang sedap di dengar,… semua yang disebut kebajikan dan patut di puji, pikirkanlah semuanya itu” (ay 8). Hidup yang selektif mencerminkan kebijaksaan dalam tingkatan yang lebih tinggi. Dalam keadaan yang terburuk, betapapun mengenaskan dan menekannya, ada sesuatu yang baik. Di dalam diri orang-orang yang paling buruk, ada sesuatu yang layak dihargai. Di dalam situasi yang paling tidak ideal, terdapat sesuatu yang pantas dicari. Hidup yang selektif mencari hal-hal yang baik yang tersebunyi di dalam tumpukan, dan menolak apa yang tidak baik atau tidak bermanfaat.
Hidup yang selektif juga menunjukkan selera dan daya tarik terhadap kebaikkan. Seorang melihat dunia ini bukan bagaimana adanya, tetapi sebagaimana dirinya. Di dalam suatu gereja atau komunitas, seseorang mungkin melihat, menyerap, dan memancarkan apa yang indah, bernilai dan pantas dipuji. Orang lain secara khusus mungkin di anugerahi untuk merasakan skandal dan keburukan. Dengan menunjukkan apa yang kita lihat, kerap kali kita menunjukkan siapa diri kita sebenarnya.
Hidup yang selektif mengembangkan karakter yang mengimbangi makanan bergizi yang kita makan. Pertumbuhan rohani menuntut kedelapan vitamin yang terdapat dalam rumus rasuli –“semua yang benar,… yang mulia,… yang adil,… yang suci,… yang manis,… yang sedap di dengar,… semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu…”
Hidup yang selektif memiliki nilai-nilai untuk mengenyangkan jiwa dalam segala keadaan. Orang Kristen yang bijak dan yang sungguh-sungguh mencari kebaikan di dalam situasi yang di hadapinya kiranya akan memperoleh inspirasi di dalam proses selektif matahari ketika ia lewat diatas kepala untuk melakukan pekerjaannya. Dari manakah matahari mengumpulkan embun murni yang turun dalam bentuk hujan dan salju untuk memberkati bumi? Sebagian diserap dari danau dan sungai di pegunungan yang berkilauan. Tetapi tidak semuanya dari sana. Sebagian lagi di serap dari aliran sungai yang tercemar, dan sebagian lagi bahkan dari selokan-selokan paling kotor di daerah kumuh. Matahari itu selektif karena dari setiap lingkungan hal-hal yang bersih saja dan meninggalkan segala kotoran dan bau busuk di belakangnya.
“…Lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahter akan menyertai kamu” (ay 9). Inilah rumus surgawi: roh kebaikan, disiplin doa, dan praktik hidup yang selektif. Demikianlah, setelah mendapatkan persekutuan dengan “Allah sumber damai sejahtera” dan memperoleh “damai sejahtera Allah” di dalam hati kita, kita di persiapkan untuk mengalami sukcacita Tuhan.