Wednesday, 2 February 2011

DIRENCANAKAN BAGI KESENANGAN ALLAH


            “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan” (Wahyu 4:11); “Sebab TUHAN berkenan kepada umatnya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan” (Maz 149:4).
            Anda direncanakan medatangkan kegembiraan bagi Allah, hidup bagi kesenangan-Nya adalah tujuan pertama hidup kita. Apabila kita sungguh-sungguh memahami kebenaran ini sepenuhnya kita tidak akan pernah lagi memiliki masalah dengan perasaan tak berarti. Kebenaran ini membuktikan betapa berharanya kita dihadapan Allah. Kalau kita sedemikian penting bagi Allah dan Dia menganggap kita cukup berharga untuk ada bersama-sama-Nya dalam kekekalan, apalagi yang anda anggap lebih penting dari itu? Kita adalah anak Allah, dan mendatangkan kemuliaan bagi Allah lebih dari hal lain apapun yang pernah Dia ciptakan. Firman-Nya berkata, “dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya” (Efesus 1:5).
            Salah satu pemberian terbesar Allah kepada kita adalah kemampuan untuk menikmati kesenangan. Dia memperlengkapi kita dengan panca indera dan emosi sehingga kita dapat mengalaminya. Allah ingin agar kita menikmati kehidupan, bukan hanya menjalaninya. Alasan mengapa kita dapat menikmati kesenangan Allah adalah karena Dia menjadikan kita menurut gambar-Nya. Kita sering lupa bahwa Allah memiliki emosi juga. Dia merasakan berbagai hal dengan sangat mendalam, Alkitab memberitahu kita bahwa Allah menyesal, cemburu, marah serta merasa sayang, sedih, dan kasih serta juga suka cita, kegembiraan dan kepuasan. Allah mengasihi, bersuka, senang, bersorak, menikmati bahkan tertawa.
            Mendatangkan Kesenangan Bagi Allah Disebut “Penyembahan”
            Alkitab berkata, TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya. (Maz 147:11). Segala perbuatan kita yang mendatangkan kesenangan bagi Allah merupakan tindakan penyembahan. Seperti berlian, penyembahan memiliki banyak segi. Penyembahan sama alaminya seperti bernafas atau makan. Jika kita gagal menyembah Allah, maka selalu menemukan sebuah pengganti, meskipun akhirnya pengganti itu adalah diri kita sendiri. Alasan mengapa Allah menciptakan kita dengan keinginan ini adalah karena Dia mendambakan penyembah-penyembah! Yesus berkata, “tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam Roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barang siapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam Roh dan kebenaran” (Yoh 4:23-24).
            Penyembahan Jauh Lebih Dari Sekedar Musik. Bagi banyak orang penyembahan sama dengan music. Mereka berkata, di gereja kami, kami terlebih dahulu melakukan penyembahan, kemudian pengajaran. Setiap bagian dari ibadah gereja adalah tindakan penyembahan; berdoa, membaca Alkitab, menyanyi, mengaku dosa, diam, saat teduh, mendengarkan khotbah, memberi persembahan, babtisan, perjamuan kudus adalah penyembahan. Penyembahan bukanlah untuk kepentingan kita. Kerap kali kita mendengar orang berkata, saya suka penyembahan hari ini! Inilah pandangan yang kurang tepat mengenai penyembahan. Penyembahan bukanlah untuk kepentingan kita. Kita menyembah demi kepentingan Allah. Ketika kita menyembah tujuan kita adalah untuk mendatangkan kesenangan bagi Allah, bukan bagi diri kita sendiri.
            Jika anda pernah berkata, “saya tidak mendapatkan apapun dari penyembahan hari ini” anda menyembah untuk alas an yang keliru. Penyembahan bukanlah bagi kita, melainkan bagi Allah. Dalam Yesaya 29 Allah mengeluh tentang penyembahan yang setengah hati dan munafik. Bangsa itu mempersembahkan doa-doa panjang, pujian yang tidak tulus, kata-kata kosong, dan upacara-upacara buatan manusia tanpa berfikir tentang maknanya. Hati Allah tidak tersentuh oleh tradisi dalam penyembahan, tetapi oleh kasih dan komitmen. Firman Tuhan berkata, “dan Tuhan telah berfirman: oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang diohapalkan” (Yes 39:13).
            Penyembahan Adalah Kehidupan Kita. Penyembahan bukanlah bagian hidup, melainkan adalah kehidupan kita. Penyemabahan bukan hanya untuk kebaktian di gereja. Kita disuruh, “carilah Tuhan dan kekuatan-NYa, carilah wajah-Nya selalu!” (Maz 105:4). Dan “dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari terpujilah nama Tuhan” (Maz 113:3). Dalam Alkitab orang-orang menyembah Allah saat di tempat kerja, dirumah, dalam perjalanan, penjara, di dalam pertempuran dan bahkan di tempat tidur. Pujian seharusnya merupakan aktivitas pertama ketika kita membuka mata pada pagi hari, dan aktivitas terakhir ketika mau menutup mata pada malam hari. Daud berkata, “aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku”(Maz 34:1).
            Setiap aktivitas bias diubah menjadi tindakan penyembahan bila kita melakukannya demi pujian, kemuliaan, dan kesenangan bagi Allah. Alkitab berkata, “jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1Kor 10:31). Bagaimana mungkin melakukan segala sesuatu bagi kemuliaan Allah? Dengan melkukan segala sesuatu seolah-olah sedang melakukannya bagi Yesus dan dengan mengadakan percakapan yang terus menerus dengan-NYa sementara kita melakukannya. Firman-Nya berkata, “apapun juga yang kamu perbuat perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kol 3:23). 

Amin.
Semoga Bermanfaat
Tuhan Yesus Memberkati.  

No comments:

Post a Comment